PENGARUH SELF-DIAGNOSIS ONLINE TERHADAP CYBERCHONDRIA PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING DI STKIP BUDIDAYA BINJAI

Authors

  • Dedek Kresna STKIP Budidaya
  • Nurul Hasanah STKIP BUDIDAYA
  • Kharina Afni STKIP BUDIDAYA

DOI:

https://doi.org/10.59342/jgt.v5i2.1121

Keywords:

Self-diagnosis online, cyberchondria, mahasiswa, regresi linear sederhana, kecemasan kesehatan.

Abstract

Riset ini diselenggarakan untuk mengupas sejauh mana self-diagnosis online berkontribusi terhadap munculnya cyberchondria pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP Budidaya Binjai. Penelitian mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi penelitian mencakup 238 mahasiswa mulai semester 2 hingga semester 8, sedangkan sekitar 100 mahasiswa ditetapkan sebagai partisipan melalui teknik purposive sampling. Penghimpunan data mengandalkan instrumen skala Likert yang memuat konstruk self-diagnosis online dan cyberchondria. Seluruh data kemudian diolah menggunakan analisis regresi linier sederhana berbantuan IBM SPSS Statistics. Luaran pengolahan data memperlihatkan bahwa angka probabilitas yang dihasilkan berada pada kisaran 0,000 atau masih melampaui syarat kebermaknaan statistik, sehingga self-diagnosis online dinyatakan memiliki kontribusi yang bermakna terhadap cyberchondria. Sementara itu, nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,591 mengisyaratkan bahwa sekitar 59,1% variasi cyberchondria dapat dijelaskan oleh self-diagnosis online. Hasil analisis per aspek menunjukkan bahwa aspek keyakinan terhadap hasil diagnosis adalah aspek paling dominan yang mempengaruhi cyberchondria, dengan kontribusi sekitar 55,3% (R2 = 0,553). Ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan individu terhadap hasil diagnosis menjadi faktor utama yang berkontribusi pada perkembangan cyberchondria pada mahasiswa.

References

Ahmed, A., & Stephen, S. (2017). Self-diagnosis in psychology students. International Journal of Indian Psychology, 4(2).

Fitri, A., Ulfa, F., Jannah, P. M., & Mental, K. (2024). Gambaran cyberchondria pada remaja. Jurnal Riset Mahasiswa Psikologi, 3(1), 1–6.

Hullur, H., Kataria, R., Koshy, V., & Behl, O. (2020). Cyberchondria: Prevalence of internet-based self-diagnosis among medical and non-medical urban Indian population. International Journal of Contemporary Medical Research, 7(3), 21–25.

Lambert, S. D., & Loiselle, C. G. (2007). Health information-seeking behavior. Qualitative Health Research, 17(8), 1006–1019.

McElroy, E., Kearney, M., Touhey, J., Evans, J., Cooke, Y., & Shevlin, M. (2019). The CSS-12: Development and validation of a short-form version of the cyberchondria severity scale. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 22(5), 330–335.

Pijar Pratiwi, B. P. (2024). Gambaran bias kognitif pada adolescence yang melakukan self diagnose terhadap penyakit mental. Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(3), 205–212.

Ulfa, F. (2024). Cyberchondria pada remaja: Peran literasi kesehatan mental dan kecemasan kesehatan. Jurnal Psikologi Islam, 7(2), 183–192.

Wahyu, P. G. G., Setiawan, I., & Saputri, R. I. (2023). Perilaku pencarian informasi kesehatan melalui internet di masyarakat. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students, 7(1), 81–8

Downloads

Published

2026-10-13

How to Cite

Dedek Kresna, Nurul Hasanah, & Kharina Afni. (2026). PENGARUH SELF-DIAGNOSIS ONLINE TERHADAP CYBERCHONDRIA PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING DI STKIP BUDIDAYA BINJAI. Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam, 5(2). https://doi.org/10.59342/jgt.v5i2.1121